Minat:

Kamis, 05 Juli 2012

Masihkah Anda Sombong Setelah Melihat Gambar ini?

Sungguh Maha Besar, melihat Ciptaan-Nya saja Kita tidak mampu apalagi Melihat Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Renungkanlah bahan bacaan di bawah ini semoga kita terhindar dari perbuatan sombong. Sesungguhnya kita Sangat Kecil di Mata Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Tim unikaneh.com mendapatkan beberapa gambar mengenai perbandingan ukuran bumi, diantara beberapa bagian di jagat raya ini.


Gambar menunjukkan besar bumi dibandingkan dengan planet2 yang ukurannya lebih kecil, yaitu : Venus, Mars, Mercury, dan Pluto.

Lalu kita lihat gambar di bawah ini…

Ini bumi dibandingkan dengan planet2 yang lebih besar.. Ada Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus.

Selanjutnya…


Perhatikan Bumi apabila dibandingkan dengan Matahari.

Next…


Apabila dibandingkan dengan Arcturus, Matahari saja sudah terlihat sangat kecil, apalagi Bumi.

Sampai sini…

Dan disini matahari sudah tak terlihat, bagaimana dengan bumi..?

Dengan perbandingan diatas tadi, setidaknya kita menjadi sadar betapa kecilnya bumi, apalagi kita sebagai penghuninya. Terbayang jelas jagat raya yang sangat besar pada gambar skala-skala diatas. Bumi kita tidak kelihatan lagi di sini, bahkan matahari hanya sebesar debu.

Antares adalah bintang ke-15 yang paling terang di angkasa. Sebenarnya masih banyak yang lebih besar lagi dari Antares, tapi belum ada bukti dan bahkan satelit huble tercanggih pun belum bisa memotretnya.

Saya sempat berpikir juga… Siapakah kita…?
Layakkah kita sombong dihadapan ALLAH ?
Apakah tujuan hidup kita…?
Apa yang membuat hidup kita, manusia, berharga, mulia dihadapan ALLAH…?

Bumi saja yang menurut kalian besarnya cuma setitik, gimana kalian yang sangat kecil???  Jadi.. tidaklah pantas manusia berjalan di atas muka bumi ini dengan sombong  terhadap sesama makhluk Allah, apalagi berlaku sombong terhadap Penciptanya, Yang Maha Besar, Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dengan tidak menerapkan hukum-hukum-Nya, apalagi sampai lebih mendahulukan hukum buatan manusia daripada Hukum Allah Subhanahu Wa Ta’ala… Na’udzubillahi min dzalik.

Untuk menyegarkan kembali ingatan kita tentang masalah yang sangat urgent ini, berikut kami bawakan kembali pemaparan Al-Imam Al-’Alim Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi  tentang para pembuat hukum selain Allah. Beliau berkata : 

Ketahuilah bahwa Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah menerangkan di banyak tempat tentang sifat­-sifat Dzat yang berhak menentukan hukum. Dan kewajiban setiap orang yang berakal adalah mengamati sifat‑sifat yang disebutkan yang insya Allah akan kami jelaskan sekarang, serta membandingkannya dengan sifat‑sifat manusia yang membuat qawaaniin wadl’iyyah (undang‑undang). Kemudian perhatikan apakah cocok sifat­-sifat sang pemilik hak menentukan hukum disifatkan kepada manusia pembuat undang-undang ? Jika sesuai sifat‑sifat tersebut---dan ini sama sekali tidak akan sesuai---maka ikutilah hukum­-hukum mereka.

Dan bila telah jelas secara meyakinkan bahwa mereka itu lebih rendah, lebih lemah dan lebih kecil, maka tempatkan mereka sesuai dengan kedudukannya, dan jangan biarkan mereka melewati batas kedudukannya sampai ke tingkat rububiyyah (Ketuhanan)Maha Suci Allah dari adanya sekutu‑sekutu dalam ibadah, hukum atau kekuasaan‑Nya.

Di antara ayat‑ayat Qur’aniyyah yang menjelaskan tentang sifat Pemilik hak membuat hukum adalah firman Allah :

"Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, maka putusan (hukum)-nya (terserah) kepada Allah”. (Qs. Asy-Syuura : 10)

Kemudian Dia  berfirman seraya menjelaskan sifat Pemilik hukum :

"(Yang mempunyai sifat‑sifat demikian itulah) Allah Tuhanku, kepada‑Nyalah aku bertawakkal dan kepada‑Nyalah aku kembali. (Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan‑pasangan dan dari jenis binatang temak pasangan‑pasangan (pula), dijadikan‑Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia‑lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Kepunyaan‑Nya lah perbendaharaan langit dan bumi, Dia melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki‑Nya dan menyempitkan‑(nya). Sesungguhnya Dia Maha Mengetaui segala sesuatu”. (Qs. Asy­-Syuura : 10‑12)

Apakah di antara orang‑orang kafir para perusak yang membuat syari’at‑syari’at syaithaniyah itu ada orang yang berhak disifati bahwasanya dia adalah Tuhan Yang segala urusan diserahkan kepada‑Nya, Yang segala sesuatu berserah kepada‑Nya, dan bahwa Dia itu adalah Pencipta langit dan bumi tanpa ada contoh sebelumnya, dan sesungguhnya Dia‑lah Yang Menciptakan pasangan bagi manusia dan menciptakan baqi mereka delapan binatang temak berpasangan yang disebut dalam ayat : "(yaitu) delapan binatang yang berpasangan, sepasang dari domba, dan sepasang dari kambing”. (Qs. Al-An'am : 143)

Dan sesungguhnya Dia : “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia‑lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. (Qs. Asy-Syuura : 11)

Dan sesungguhnya Dia : “Kepunyaan‑Nya lah perbendaharaan langit dan bumi”. (Qs. Asy-Syuura : 12)

Dan sesungguhnya Dia : "melapangkan rezeki bagi siapa yang, dikehendaki‑Nya dan menyempitkan‑(nya). Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala sesuatu”. (Qs. Asy-Syuura : 12)

Maka wajib atas kalian wahai kaum muslimin memahami sifat‑sifat Dzat Yang berhak menetapkan syari’at, menghalalkan, dan mengharamkan. Dan janganlah kalian menerima hukum dari orang kafir yang, hina, rendah, dan jahil.

Dan ayat yang semakna dengan ayat ini adalah firman Allah :

“Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar‑benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”. (Qs. An‑Nisa' : 59)

Dan Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam terheran‑heran setelah ayat ini terhadap orang-orang yang mengklaim beriman kemudian mereka juga menginginkan muhaakamah (berhukum) kepada yang tidak punya sifat‑sifat Dzat Pemilik hukum, yang disebut AI‑Qur'an sebagai Thaghut. Maka setiap yang berhukum kepada selain syari’at Allah maka ia telah berhukum kepada Thaghut, dan yang demikian itu dalam firman Allah :

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang‑orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada opa yang diturunkan sebelum k­amu? Mereka hendak berhakim kepada Thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari Thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh‑jauhnya". (Qs.  An‑Nisa' : 60)

Maka kafir terhadap Thaghut yang telah Allah tegaskan dalam ayat ini merupakan syarat dalam keimanan sebagaimana penjelasan‑Nya dalam ayat :

"Karena itu barangsiapa yang kafir kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia  telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat". (Qs. Al­-Baqarah: 256)

Maka dipahami dari ayat ini bahwa siapa yang tidak mengkafirkan Thaghut, maka ia itu tidak berpegang kepada tali yang teguh. Dan siapa yang belum berpegang kepada tali yang teguh maka dia terus bersama orang‑orang yang binasa.

Dan dari ayat yang menjelaskan hal tersebut adalah firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala :

”Kepunyaan-Nya lah semua yang tersembunyi di langit dan di bumi. Alangkah terang penglihatan-Nya dan alangkah tajam pendengaran-Nya; tak ada seorang pelindungpun bagi mereka selain daripada-Nya; dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan hukum”. (Qs. Al-Kahfi : 26)

Apakah di antara orang‑orang kafir yang jahat yang membuat hukum itu ada orang yang layak dikatakan baginya bahwa ia memiliki semua yang tersembunyi di langit dan di bumi ? Apakah pendengaran dan penglihatannya itu dapat menguasai semua yang didengar dan dilihat? Dan bahwa tidak ada seorang pun selain dia yang dapat menjadi penolong ? Maha Suci Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Besar dari hal yang demikian itu.

Di antara ayat‑ayat yang menunjukan hal itu adalah firman Allah :

“Janganlah kamu sembah di samping (menyembah) Allah, ilah-ilah apapun yang lain. Tidak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia. Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. Bagi-Nyalah segala penentuan (hukum), dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan”.  (Qs. Al-Qashash : 88)

Apakah di antara orang‑orang kafir yang yang membuat undang-undang itu ada orang mempunyai hak untuk dikatakan bahwasanya ia adalah Tuhan yang Maha Esa ? Dan bahwasannya setiap sesuatu itu binasa kecuali wajahnya ? Dan bahwasanya setiap makhluk itu kembali kepadanya ? Maha Suci Tuhan kami yang Maha Agung dan Maha Suci dari adanya makhluk yang disifati dengan sifat‑Nya.

Dan di antara ayat yang berhubungan dengan ini adalah firman Allah :

‘'Yang demikian itu adalah karena kamu kafir apabila Allah saja yag disembah. Dan kamu percaya apabila Allah dipersekutukan, maka hukum (sekarang ini) adalah pada Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar". (Qs. AI‑Mu’min : 12)

Maka apakah di antara orang‑orang kafir yang durjana yang pembuat undang-undang syaithaniyah ada orang yang berhak disifati dalam kitab samawi sebagai Dzat Yang Maha Tinggi dan Maha Besar ? Maha Suci Engkau ya Allah dari segala hal yang tidak layak dengan kesempurnaan‑Mu.

Dan di antara ayat yang menjelaskan hal ini adalah firman Allah :

“Dan dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, bagi-Nyalah segala puji di dunia dan di akhirat, dan bagi-Nyalah segala penentuan (hukum) dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan. Katakanlah : "Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu malam itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan sinar terang kepadamu ? Maka apakah kamu tidak mendengar ?". Katakanlah : "Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu siang itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan malam kepadamu yang kamu beristirahat padanya ? Maka apakah kamu tidak memperhatikan ?". Dan Karena rahmat-Nya, dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya”. (Qs. Al- Qashash : 70‑73)

Maka apakah di antara para pembuat undang‑undang itu ada orang yang berhak dikatakan bahwa dia memiliki pujian di awal dan di akhir, dan bahwa dia yang menggilirkan malam dan siang, yang dengan itu semua Dia menjelaskan kesempumaan kekuasaan‑Nya dan kebesaran nikmat‑Nya atas makhluk‑Nya. Maha Suci Pencipta langit dan bumi, Allah Maha Sempuma untuk mempunyai sekutu dalam hukum, ibadah, atau kekuasaan‑Nya.

Di antara ayat yang berhubungan dengan hal itu adalah firman‑Nya :

“Hukum itu hanyalah milik  Allah, Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia, itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (Qs. Yusuf : 40)

Maka apakah di antara mereka itu ada orang yang berhak untuk dikatakan bahwa ia adalah satu‑satunya Ilah yang berhak disembah, dan bahwa ibadah hanya kepadanya adalah agama yang lurus ? Maha Suci Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Besar dari apa‑apa yang dikatakan orang­orang zhalim.

Dan di antaranya adalah firman‑Nya :

“Hukum itu hanyalah hak Allah ; kepada-Nya lah aku bertawakkal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakkal berserah diri". (Qs. Yusuf : 67)

Maka apakah di antara mereka itu ada orang yang berhak untuk ditawakkali dan berhak diserahi urusan segala sesuatu ?

Dan diantaranya firman Allah :

“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?”. (Qs. Al-Maaidah : 49 - 50)

Maka apakah di antara para pembuat syari’at itu ada orang yang berhak dikatakan bahwa hukumnya itu adalah apa yang telah diturunkan Allah dan bahwasanya hukumnya itu bertentangan dengan mengikuti hawa nafsu ? Dan apabila berpaling darinya, maka Allah akan mengadzabnya dengan sebab sebagian dosa-dosanya ? Karena dosa‑dosa itu tidak diperhitungkan semuanya (diadzab karenanya) kecuali di akhirat ? Dan sesungguhnya tidak ada hukum yang lebih bagus dari hukumnya bagi orang‑orang yang, meyakininya ? Maha Suci Allah dari setiap apa yang tidak sesuai dengan kesempumaan dan kebesaran­Nya.

Diantaranya firman Allah :

 “Katakanlah : "Sesungguhnya Aku berada di atas hujjah yang nyata dari Tuhanku, sedang kamu mendustakannya. tidak ada padaku apa (azab) yang kamu minta supaya disegerakan kedatangannya. Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang Sebenamya dan Dia Pemberi Keputusan yang paling baik". (Qs. Al-An’am : 57)

Maka apakah mereka ltu berhak disifati sebagai dzat yang menerangkan yang sebenamya dan bahwa dia adalah pemberi keputusan yang paling baik ?

Dan diantaranya firman  Allah :

“Maka patutkah Aku mencari hakim selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan Kitab (Al Quran) kepadamu dengan terperinci ? Orang-orang yang telah Kami datangkan Kitab kepada mereka, mereka mengetahui bahwa Al-Qur’an itu diturunkan dari Tuhanmu dengan sebenamya. Maka janganlah kamu sekali-kali termasuk orang yang ragu-ragu”. (Qs. Al‑An’am : 114)

Maka apakah di antara mereka‑mereka yang tadi disebutkan ada orang yang berhak disifati bahwa sesungguhnya dia yang menurunkan kitab ini secara rinci, yang di mana para ahli kitab bersaksi bahwa dia diturunkan dari Tuhanmu dengan haq, dan sesungguhnya peraturan itu sempuma kalimatnya secara benar dan adil, yaitu benar dalam pemberitaan dan adil dalam hukum, dan bahwasannya tidak ada pengganti dari kalimatnya dan dia maha mendengar dan maha mengetahui ? Maha Suci Tuhan kita, alangkah Agung‑Nya dan alangkah Mulia‑Nya.

Diantaranya firman Allah :

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta "Ini halal dan ini haram", untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. (Itu adalah) kesenangan yang sedikit, dan bagi mereka azab yang pedih”. (Qs. Al-Nahl : 116‑117)

Ayat ini telah menjelaskan bahwa para pembuat undang‑undang selain apa yang disyari’atkan Allah sesungguhnya lisan‑lisan mereka itu tidak lain hanyalah membuat kedustaan belaka, karena mereka mengada‑adakannya atas Allah, dan sesungguhnya mereka tidak akan beruntung tetapi hanya menikmati sedikit kemudian diadzab dengan adzab yang pedih. Yang demikian ini sangat jelas perbedaan antara sifat-sifat mereka dengan sifat‑sifat yang memiliki hak penghalalan dan pengharaman.

Diantaranya firman Allah :

"Katakanlah : “Bawalah kemari saksi‑saksi kamu yang dapat mempersaksikan bahwasannya Allah telah mengharamkan (makanan yang kamu) haramkan ini”, Jika mereka mempersaksikan, maka janganlah kamu ikut (pula) menjadi saksi bersama mereka". (Qs. Al-An’am : 150)

Mereka itu tidak mampu untuk menjelaskan sandaran pengharaman itu. Dan yang demikian itu jelas sekali bahwa selain Allah tidak memilliki sifat penghalalan dan pengharaman. Dan dikarenakan tasyri' (penetapan hukum) dan semua macam hukum itu baik hukum syari'at atau kauniyyah qadariyyah (hukum yang Allah tetapkan di alam ini) adalah bagian dari kekhususan rububiyah (Ketuhanan) Allah Subhanahu Wa Ta'ala, sebagaimana yang telah ditegaskan oleh ayat‑ayat tadi, maka terbuktilah bahwa setiap orang yang mengikuti aturan selain aturan Allah maka berarti dia itu telah menjadikan pembuat syari’at tersebut sebagai tuhan dan dia itu menyekutukannya bersama Allah.

Dan firman Allah :

“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah ?". (Qs. Asy-Syuraa : 21)

Allah telah menamakan orang‑orang yang mensyariatkan dalam agama ini apa yang tidak diizinkan Allah sebagai tandingan‑tandingan. Yang menambah jelas hal ini adalah apa yang Allah sebutkan tentang syaitan pada hari kiamat. Sesungguhnya ia berkata kepada orang yang menyekutukannya di dunia. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu memper-sekutukan aku (dengan Allah) sejak dulu. Sedangkan penyekutuannya yang tersebut itu tidak lebih dari sekedar syaitan itu mengajak mereka untuk mentaatinya, terus mereka mengikutinya.

Sebagaimana telah jelas hal itu pada firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala :

“Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamupun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu". Sesungguhnya orang-orang yang zhalim itu mendapat siksaan yang pedih”. (Qs. Ibrahim : 22)

Dan hal ini sangat jelas sebagaimana. yang anda perhatikan”. Selesai dengan diringkas. [Al Hakimiyah Fi Tafsir Adhwa’il Bayan]

Al-Imam Muhammad Al-amin Asy-Syinqithi juga berkata :
“Adapun Undang-Undang yang bertentangan dengan Perundang-undangan buatan Pencipta langit dan bumi, maka menjadikannya sebagai kata pemutus (atas segala pesoalan) berarti telah kafir dengan pencipta langit dan bumi, seperti tuduhan melebihkan bagian warisan anak laki-laki atas anak perempuan tidak adil maka wajib menyamakannya, tuduhan poligami itu mendzalimi kaum perempuan, talak itu kedzaliman atas perempuan, rajam dan potong tangan dan lainnya itu kejam tak boleh diperlakukan atas manusia dan sebagainya. Memperlakukan undang-undang seperti ini dalam masalah nyawa, harta, kehormatan, nasab, akal dan agama masyarakat berarti telah mengkufuri pencipta langit dan bumi dan membangkang undang-undang langit yang dibuat oleh Pencipta seluruh makhluk, padahal Dialah yang Maha Mengetahui apa yang baik bagi mereka. Maha Suci Allah dari adanya pembuat undang-undang selain-Nya”. [Tafsir Adhwa’ul Bayan : IV/84-85]

Rabu, 04 Juli 2012

Jangan Takut Menegakkan Syariat Islam! (Pesan Buya Hamka & M Natsir)


Isu Negara Islam Indonesia, radikalisme, dan terorisme yang ditayangkan hampir setiap hari di media massa nasional setidaknya mampu membentuk opini di masyarakat—khususnya mereka yang awam terhadap gerakan Islam, untuk mencurigai setiap hal yang berkaitan dengan aktivitas keislaman. Di kampung-kampung, pasca hebohnya pemberitaan tentang NII, masyarakat menaruh kecurigaan terhadap gerakan-gerakan yang selama ini menuntut diberlakukannya sistem Islam dalam pemerintahan, tegaknya syariat Islam, dan menuntut dihentikannya kezhaliman global yang dipertontonkan AS dan sekutu-sekutunya. Apalagi, dalam pemberitaan selalu digambarkan bahwa mereka yang terlibat dalam NII dan terorisme menggunakan atribut-atribut seperti jilbab panjang dan bercadar bagi perempuan, celana cingkrang, berjanggut dan jidat hitam bagi laki-laki.

Tak hanya itu, isu ini juga sukses membuat aktivis parpol Islam sibuk menangkis tudingan bahwa mereka bukan bagian dari NII. Klarifikasi terhadap tudingan bahwa mereka bukan bagian dari NII sah-sah saja. Tapi, setidaknya klarifikasi itu tidak diiringi dengan kata-kata yang terkesan sok dan arogan, dengan mengatakan bahwa gagasan negara Islam adalah “ide kampungan”. Katakanlah tak setuju dengan ide negara Islam atau label negara Islam, setidaknya tak perlu mengeluarkan kata-kata yang terkesan arogan dan merasa paling paham soal konsep bernegara. Apalagi, isu NII ini kuat dugaan adalah rekayasa intelijen yang ingin memberangus ide-ide Islam.

Saat ini, umat dihadapkan pada elit-elit politik Islam yang terkesan mengidap inferiority complex alias minder dengan identitas Islam. Mereka selalu mengelak jika dituding ingin menegakkan syariat Islam. Seolah-olah syariat Islam adalah boomerang yang bisa menghancurkan karir politiknya, merusak reputasinya, bahkan menghambat laju popularitasnya. Islam tak lagi dianggap sebagai identitas yang menjual dalam panggung politik. Karena itu, bagi mereka politik identitas atau politik aliran sudah ketinggalan zaman. Koor ini disambut meriah oleh para politisi dan pengamat politik sekular. Gaung soal partai terbuka dianggap lebih modern dan tidak kampungan. Untuk terlihat matching sebagai partai terbuka dan modern, acara-acara pun diselenggarakan di hotel-hotel mewah. Logika sederhana mengatakan, di tengah umat yang dihimpit oleh kemiskinan, apakah pantas mengadakan acara bermegah-megahan?

Atas nama persatuan dan kesatuan, siasat politik dan toleransi, banyak elit-elit politik Islam yang menghindar jika dituding sebagai bagian dari kelompok yang mempunyai agenda penegakkan syariat Islam dalam konteks berbangsa dan bernegara. Seolah-olah “cap” sebagai penegak syariat akan melunturkan citra politiknya dan membuatnya terasing dari pentas politik.

Terkait dengan hal ini, Mohammad Natsir, tokoh Partai Masyumi, menyatakan : “Orang yang tidak mau mendasarkan negara itu kepada hukum-hukum Islam dengan alasan tidak mau merusakkan hati orang yang beragama Islam, sebenarnya (dengan tidak sadar atau memang disengaja) telah berlaku zhalim kepada orang Islam sendiri yang bilangannya di Indonesia 20 kali lebih banyak, lantaran tidak menggugurkan sebagian dari peraturan-peraturan agama mereka (agama Islam). Ini berarti merusakkan hak-hak mayoritas, yang sama-sama hal itu tidak berlawanan dengan hak-hak kepentingan minoritas, hanya semata-mata lantaran takut, kalau si minoritas itu “tidak doyan”. Ini namanya “staatkundige”, demokrasi tunggang balik.”

Nasehat bagi mereka yang “takut atau terkesan malu-malu” untuk menegakkan syariat Islam juga disampaikan Buya Hamka. Dalam Tafsir Al-Azhar, Hamka menyatakan :

“Sebagai Muslim, janganlah kita melalaikan hukum Allah. Sebab, di awal surah Al-Maaidah sendiri yang mula-mula diberi peringatan kepada kita ialah supaya menyempurnakan segala ‘uqud (janji). Maka, menjalankan hukum Allah adalah salah satu ‘uqud yang terpenting diantara kita dengan Allah. Selama kita hidup, selama iman masih mengalir di seluruh pipa darah kita, tidaklah boleh sekali-kali kita melepaskan cita-cita agar hukum Allah tegak di dalam alam ini, walaupun di negeri mana kita tinggal. Moga-moga tercapai sekadar apa yang kita dapat capai. Karena Tuhan tidaklah memikulkan beban kepada kita suatu beban yang melebihi dari tenaga kita. Kalau Allah belum jalan, janganlah kita berputus asa. Dan kufur, zhalim, fasiklah kita kalau kita pecaya bahwa ada hukum yang lebih baik daripada hukum Allah.

Jika kita yang berjuang menegakkan cita Islam ditanya orang, Adakah kamu, hai umat Islam bercita-cita, berideologi, jika kamu memegang kekuasaan, akan menjalankan hukum syariat Islam dalam negara yang kamu kuasai itu? Janganlah berbohong dan mengolok-olokkan jawaban. Katakan terus terang, bahwa cita-cita kami memang itu. Apa artinya iman kita kalau cita-cita yang digariskan Tuhan dalam Al-Qur’an itu kita pungkiri?

Dan kalau ditanya orang pula, tidaklah demikan dengan kamu hendak memaksakan agar pemeluk agama lain yang digolongkan kecil (minoritas) dipaksa menuruti hukum Islam? Jawablah dengan tegas, “Memang akan kami paksa mereka menuruti hukum Islam. Setengah dari hukum Islam terhadap golongan pemeluk agama yang minoritas itu ialah agar mereka menjalankan hukum Taurat, ahli Injil diwajibkan menjalankan hukum Injil. Kita boleh membuat undang-undang menurut teknik pembikinannya, memakai fasal-fasal dan ayat suci, tapi dasarnya wajiblah hukum Allah dari Kitab-kitab Suci, bukan hukum buatan manusia atau diktator manusia. Katakan itu terus terang, dan jangan takut! Dan insflah bahwa rasa takut orang menerima hukum Islam ialah karena propaganda terus menerus dari kaum penjajah selama beratus tahun. Sehingga, orang-orang yang mengaku beragama Islam pun kemasukan rasa takut itu”. (Hamka, Tafsir Al-Azhar, Juz 6)

Demikian nasihat M Natsir dan Buya Hamka. Sebagai umat Islam, apalagi aktivis partai Islam, kita harus percaya diri bahwa Islamlah yang cukup dan cakap sebagai aturan dalam mengelola bangsa ini. Apalagi, cita-cita para as-saabiqunal awwalun bangsa ini dalam memerdekaan negeri ini adalah agar hukum Islam bisa ditegakkan, bukan hukum buatan manusia apalagi hukum buatan kolonial. Cita-cita menegakkan Islam harus terus disuarakan dan diperjuangkan. Karena, perjuangan menegakkan syariat Islam adalah perjuangan akidah, bukan perjuangan tawar menawar yang bisa dikompromikan.

“Adalah satu hal yang sangat tidak bisa diterima akal; mengaku diri Islam, mengikut perintah Allah dalam hal sembahyang (shalat) tetapi mengikuti teori manusia dalam pemerintahan”, demikian ujar Buya Hamka. [JIHADGLOBAL]

Survei Lembaga Penelitian UHAMKA: 76 % Warga Jakarta Setujui Negara Islam


Sebuah survei yang dilakukan Lembaga Penelitian (lemlit) Universitas Muhammadiyah Dr Hamka (Uhamka) Jakarta, menyimpulkan bahwa sebagian besar warga ternyata mengharapkan pelaksanaan hukum syariah. Jumlahnya mencapai 77 persen dari responden.

“Penelitian ini dilakukan di Jakarta pada tanggal 18-29 Juli 2011 dengan partisipan penelitian sebanyak 202 warga Muslim Jakarta,” kata juru bicara Tim Survei tentang “Ancaman bagi Ideologi Negara melalui Radikalisme Agama” dari Lemlit Uhamka, Subhan El Hafiz di Jakarta, Selasa.

Dosen Fakultas Psikologi Uhamka itu mengatakan, survei bahkan menyimpulkan bahwa sebagian besar masyarakat mengharapkan adanya negara Islam, sekitar 76 persen.
Menurut dia, hal ini tentu menjadi tantangan besar terhadap ideologi bangsa yang harus dihadapi, namun demikian, penanganan terhadap isu ini tidak dapat dilakukan dengan kekerasan dan tindakan represif serta kekhawatiran yang berlebihan terhadap konflik antaragama.

Hal ini dikarenakan, penelitian lebih jauh terhadap fakta di atas menunjukkan bahwa 55 persen partisipan mengatakan bahwa pemerintah saat ini sudah cukup baik atau adil terhadap agama-agama yang ada di Indonesia, ujarnya.

Selain itu hanya 12 persen yang mengkaitkan pelaksanaan syariah dalam konteks hukum, sedangkan sebagian besar (51 persen) mengkaitkan syariah dalam konteks pedoman moral, membela keadilan, dan meningkatkan kesejahteraan.

Jika ketidakpuasan masyarakat terhadap pemerintah terus berlanjut maka bukan tidak mungkin angka ini akan terus meningkat hingga mencapai jumlah yang cukup signifikan untuk terjadinya revolusi dalam rangka mengganti ideologi negara, tambahnya.

Jika dikaitkan dengan ideologi, tingginya harapan masyarakat terhadap pelaksanaan syariah dan negara Islam harus dilihat sebagai bentuk kekecewaan terhadap pemerintah saat ini.

Agama dijadikan dasar untuk mengubah negara karena keyakinan yang besar umat beragama bahwa agama akan mampu menyelesaikan masalah kenegaraan. Hal yang sama dapat dilihat pada daerah tapal batas Indonesia yang mengekspresikan kekecewaan pada pemerintah melalui perlawanan bersenjata, isu negara merdeka, atau bergabung dengan negara tetangga.

Namun pada daerah yang berada di ‘area tengah’ kekecewaan terhadap pemerintah diekspresikan melalui harapan terhadap perubahan bentuk dan ideologi negara yang sesuai dengan agama, ujarnya.

Tiap partisipan penelitian yang diwawancarai melalui wawancara tatap muka ini dipilih dari kelurahan yang berbeda di Jakarta dimana jumlah partisipan tiap kecamatan disesuaikan dengan jumlah kelurahan pada masing-masing kecamatan tersebut, ujarnya. (Sharia4indonesia)

Membongkar Kedok Syari'at Islam Palsu di Aceh


Pasca terjadinya reformasi, MPR RI mengeluarkan sebuah Ketetapan dengan No. IV tahun 1999 tentang GBHN, yang menegaskan Daerah Istimewa Aceh sebagai Daerah Otonomi Khusus guna mempertahankan integrasi bangsa dan menghargai kesetaraan dan keragaman kehidupan seni budaya. Selanjutnya GBHN ini ditindaklanjuti oleh UU No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah dan UU No. 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat Dan Daerah. Karena Indonesia ini merupakan negara hukum, maka pelaksanaan otonomi khusus ini harus diatur berdasarkan UU khusus bagi Aceh, sehingga pada tanggal 9 Agustus 2001 ditetapkanlah UU No.18 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Daerah Istimewa Aceh Sebagai Propinsi Nangroe Aceh Darussalam.


Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2001 tentang Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam ini telah memberi peluang bagi Aceh untuk memberlakukan Syariat Islam. Pemerintah daerah kemudian menindaklanjutinya dengan pemberlakuan sejumlah Qanun yang berkaitan dengan Syari’at Islam. Di antaranya, Qanun Nomor 10, Nomor 11, Nomor 12, Nomor 13, dan Nomor 14.


Keppres No.11 tahun 2003 tentang Mahkamah Syari’ah dan Mahkamah Syari’ah Propinsi lahir guna melaksanakan hukum Islam yang menentukan wewenang dari Mahkamah Syari’ah yang selanjutnya ditetapkan beberapa Qanun. Pelaksanaan syari’ah oleh Mahkamah Syari’ah diatur dalam Qanun No.10 Tahun 2002 tentang peradilan syariat Islam dan Qanun No.11 Tahun 2002 tentang pelaksanaan Syari’at Islam di bidang Akidah, Ibadah, dan Syi’ar Islam yang salah satu ketentuannya adalah kewajiban berbusana Islami bagi pemeluk muslim di seluruh wilayah Nanggroe Aceh Darussalam. Namun belum ada ketentuan hukum acara mengenai tata cara hukum acara Qanun tersebut. Kedua Qanun tersebut diistilahkan dalam bahasa fiqh sebagai Qanun Formil, sedangkan Qanun Materil belum disahkan.


Hal ini menunjukkan kekosongan hukum yang membuat tersangka dapat lepas dari jeratan hukum, sehingga dalam Qanun No.10 Tahun 2002 kekosongan ini diatasi dengan tetap memberlakukan KUHP sebagai dasar hukum. Hal ini menunjukkan bahwa Mahkamah Syari’ah tidak sepenuhnya menerapkan Syari’at Islam di Aceh. Selain itu, yang membuat fatal adalah Qanun ini dikeluarkan di Aceh yang merupakan wilayah Negara Republik Indonesia sehingga bertentangan dengan konstitusi Indonesia.


Sebagai contoh, didalam Syari’at Islam, orang-orang Islam dan orang-orang kafir mempunyai hak dan kewajiban yang berbeda. Orang-orang Islam wajib membayar zakat jika telah sampai perhitungannya, sedangkan orang-orang kafir wajib membayar jizyah, yaitu pajak per kepala yang dipungut sebagai imbangan bagi keamanan diri mereka, dan setelah itu mereka wajib tunduk terhadap Syari’at Islam. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :


“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk”. (Qs. At-Taubah : 29)

Dengan hal ini maka orang-orang kafir tersebut bisa merasakan keadilan dari Syari’at Islam karena mereka telah hidup dibawahnya, sehingga diharapkan mereka tertarik untuk masuk kedalam agama Islam dan akhirnya akan selamat dari kekafiran yang membinasakan.


Namun hal ini tidak akan mungkin dilakukan oleh Pemerintah Aceh karena bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945. Di dalam Pancasila dan UUD 1945 orang-orang Islam dan orang-orang kafir mempunyai hak dan kewajiban yang sama, sebagaimana didalam sila II butir I dikatakan : ”Mengakui persamaan derajat, persamaan hak dan persamaan kewajiban antar sesama manusia”. Dan juga sebagaimana didalam UUD 1945 Bab X pasal 27 ayat (1) : ”Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya”.

Kita bisa melihat pada realita yang terjadi, bagaimana Pemerintah Aceh mewajibkan pajak bagi seluruh manusia, sedangkan zakat hanya bersifat sukarela. Jika ada yang tidak membayar pajak, maka dia akan mendapatkan hukuman, adapun jika ada yang tidak membayar zakat (harta yang sudah sampai perhitungannya), maka hal itu tidaklah mengapa. Maka Syari’at Islam apa yang tidak diwajibkan zakat didalamnya???!!!


Bahkan tidak cukup sampai disitu. Jika didalam Syari’at Islam yang sebenarnya orang-orang kafir diwajibkan membayar pajak dan tunduk dibawah Syari’at Islam, maka didalam “Syari’at Islam” yang sedang berlaku di Aceh ini, keadaan telah menjadi terbalik. Umat Islam disamping diwajibkan membayar pajak, juga diwajibkan untuk tunduk kepada Syari’at Demokrasi. Padahal kita telah mengetahui didalam pembahasan Demokrasi Adalah Sebuah Agamabahwa pada hakikatnya Demokrasi adalah sebuah agama yang diciptakan oleh orang-orang kafir, yang mana tujuan mereka menciptakan agama Demokrasi ini adalah untuk membangkang dari aturan Tuhan.


Demikian pula didalam permasalahan Riba. Walaupun Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah sangat jelas mengharamkan riba didalam firman-Nya :


“Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”. (Qs. Al-Baqarah : 275)


Akan tetapi syari’at yang telah ditetapkan oleh Allah tentang pengharaman riba ini tidak akan mungkin diberlakukan di Aceh, karena ekonomi yang berjalan di Indonesia adalah ekonomi yang menggunakan sistem riba, sehingga di Aceh juga harus menyesuaikan dengan sistem yang berlaku.


Jadi didalam ”Syari’at Islam” yang sedang berlaku di Aceh, kekuasaan Allah masih berada dibawah kekuasaan Pancasila dan UUD 1945. Sedangkan Allah Ta’ala berfirman :


“Dan Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hamba-Nya”. (Qs. Al-An’am : 61)

Akan tetapi menurut Pemerintah Aceh : ”Pancasila dan UUD 1945- lah yang mempunyai kekuasaan tertinggi”.


Contoh lainnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :


“Barangsiapa mengganti agamanya maka bunuhlah ia”. (HR. Bukhari dan Muslim)


Islam sangat menjaga agar pemeluknya jangan sampai ada yang murtad, karena kehidupan yang sebenarnya adalah kehidupan akhirat, sedangkan kehidupan dunia ini hanyalah persinggahan sementara. Orang-orang yang mati dalam keadaan beriman, maka dia akan mendapatkan surga. Sedangkan orang-orang yang mati dalam keadaan kafir maka dia akan kekal di neraka. Maka, oleh karena kasih sayang-Nya kepada hamba-hamba-Nya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala membuat sebuah peraturan yang tegas didalam hal ini, yaitu memberikan hukuman mati bagi siapa saja yang murtad dari Islam. Sehingga dengan hal ini diharapkan umat Islam akan takut untuk murtad. Inilah makna Rahmatan Lil ’Alamin, yaitu Syari’at menjaga agar manusia hidup dan mati dalam keadaan beriman yang akan membawa kepada keselamatan baik di dunia maupun di akhirat.


Akan tetapi hal ini tidak akan mungkin diterapkan oleh Pemerintah Aceh, karena bertentangan dengan Pancasila, sila I butir II yang mana dikatakan : ”Saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaan”.

Dan juga bertentangan dengan UUD 1945 Bab XI pasal 29 ayat (2) yang berbunyi : “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadah menurut agama dan kepercayaannya itu”.

Didalam Pancasila dan UUD 1945, seluruh manusia dibebaskan untuk berganti-ganti agama. Hal ini berarti membuka pintu kemurtadan selebar-lebarnya. Dan kita bisa melihat bagaimana saat ini para missionaris di Aceh sangat gencar dan sangat bebas melaksanakan misinya untuk memurtadkan rakyat Aceh tanpa ada hukum yang menghalanginya.


Jadi, didalam Syari’at Islam palsu yang sedang berlaku di Aceh, ketetapan Allah dan Rasul-Nya harus tunduk oleh ketetapan Pancasila dan UUD 1945, padahal Allah Ta’ala telah berfirman :


“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka”. (Qs. Al-Ahzab : 36)

Akan tetapi menurut Pemerintah Aceh : ”Dan tidaklah patut bagi Allah dan Rasul-Nya, apabila Pancasila dan UUD 1945 telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan yang lain”.


Dan hal ini sudah terbukti ketika pada tahun 2006 yang lalu 56 anggota DPR RI mengajukan petisi untuk mencabut semua Perda yang bernuansa Syari’at Islam. Pimpinan DPR RI didesak agar segera menyurati Presiden sehubungan dengan masalah itu. Dalam pandangan ke-56 anggota DPR RI tersebut, Perda-Perda Syari’at telah melanggar dan bertentangan dengan prinsip Konstitusi dan Pancasila. [Majalah Hidayatullah Edisi 3 / XIX Juli 2006, Jumadits Tsani 1427]

Namun mungkin saja Pemerintah Aceh akan berdalih dengan mengatakan : ”Kita akan menerapkan Syari’at Islam secara bertahap, dan ini akan membutuhkan waktu yang sangat panjang”.


Pemerintah dalam hal ini telah berdusta, karena sebagaimana yang telah disebutkan diatas, pemerintah tidak boleh menerapkan Syari’at Islam yang bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945.


Disamping itu, kita tanyakan juga pada Pemerintah Aceh : Adakah diantara para Khulafaur Rasyidin (Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khatthab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib)---yang mana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda mengenai mereka : ”Ikutilah sunnahku dan sunnah khulafaur rasyidin sesudahku”,---ketika mereka memerintah berani menerapkan Syari’at Islam secara bertahap ?? Perhatikanlah sikap para Sahabat yang mana Allah berfirman tentang mereka :


“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya”. (Qs. At-Taubah : 100)

Inilah ulamanya Sahabat, Imamut Tafsir ‘Abdullah bin ‘Abbas, ketika beliau berkata : “Hampir kalian ditimpa hujan batu dari langit, aku menuturkan : “Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam”, akan tetapi kalian mengatakan : “Kata Abu Bakar dan Umar”.


Ucapan ini dari Ibnu ‘Abbas sebagai jawaban atas orang-orang yang berkata padanya : “Sesungguhnya Abu Bakar dan Umar tidak berpendapat adanya Tamattu’ dengan berumrah sampai haji, dan keduanya berpendapat bahwa haji Ifrad lebih utama”, atau yang searti dengan ini. Sementara Ibnu Abbas berpendapat bahwa Tamattu’ dengan umrah sampai haji adalah wajib. Ia berkata : “Jika dia berthawaf di Ka’bah dan bersa’i antara Shafa dan Marwah tujuh kali keliling, maka ia telah lepas dari umrahnya, mau tidak mau”. Karena ada hadits Suraqah bin Malik ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruh para Sahabat supaya mereka menjadikan-nya umrah dan tahallul bila telah thawaf di Ka’bah dan bersa’i antara Shafa dan Marwah. Suraqah berkata : “Wahai Rasulullah, apakah ini untuk tahun ini atau untuk selamanya?”. Beliau menjawab : “Untuk selama-lamanya”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Maka perhatikanlah bagaimana sikap seorang Sahabat yang Agung (‘Abdullah bin ‘Abbas) yang menentang keras orang-orang yang lebih mendahulukan perkataan Abu Bakar dan Umar daripada perkataan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, padahal kita semua mengetahui keutamaan mereka berdua –Radhiyallahu ‘anhuma-. Jika demikian, bagaimana dengan Pemerintah yang lebih mendahulukan Pancasila dan UUD 1945 daripada Allah dan Rasul-Nya??


Lalu perhatikan pula bagaimana pendapat para Imam Madzhab yang empat dalam menyikapi hal ini :


Imam Abu Hanifah berkata : “Jika aku mengatakan suatu perkataan sedang Kitabullah menentangnya, maka tinggalkanlah perkataanku karena Kitabullah”. Dikatakan : “Jika sabda Rasulullah yang menentangnya?”. Beliau berkata : “Tinggalkanlah perkataanku karena sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam“. Dikatakan : “Jika perkataan Sahabat yang menentangnya?”. Beliau berkata : “Tinggalkanlah perkataanku karena perkataan Sahabat”.


Sedangkan menurut Pemerintah Aceh : “Tinggalkanlah jika ada Syari’at Islam yang bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945”.


Imam Malik bin Anas berkata : “Tidak ada seorangpun dari kita kecuali ucapannya boleh diterima dan ditolak kecuali penghuni kuburan ini (yaitu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam)”.


Sedangkan menurut Pemerintah Aceh : “Tidak ada seorangpun dari kita kecuali ucapannya boleh diterima dan ditolak kecuali Pancasila dan UUD 1945”.


Imam Asy-Syafi’i berkata : “Jika kalian menemukan dalam kitabku sesuatu yang berlawanan dengan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, maka ambillah sunnah Rasulullah dan tinggalkanlah apa yang aku katakan”.


Sedangkan menurut Pemerintah Aceh : “Jika kalian menemukan dalam Kitab Allah (Syari’at Islam) sesuatu yang berlawanan dengan Pancasila dan UUD 1945, maka ambillah Pancasila dan UUD 1945 dan tinggalkanlah Syari’at Islam”.


Dan Imam Ahmad bin Hanbal berkata : “Aku merasa heran dengan orang-orang yang mengetahui isnad Hadits dan keshahihannya, tapi mereka menjadikan pendapat Sufyan (Ats-Tsauri) sebagai acuannya, padahal Allah Ta’ala telah berfirman : “Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa fitnah atau ditimpa siksa yang pedih”. (Qs. An-Nuur : 63). Tahukah kamu apa pengertian fitnah disini ? yaitu Syirik. Bisa jadi bila dia menolak sabda beliau, akan terjadi suatu kesesatan, sehingga celakalah dia”.


Sungguh benar Imam Ahmad, Celakalah Pemerintah Aceh jika menolak ayat-ayat Allah dan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.


“Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang melampaui batas dan ragu-ragu. (Yaitu) orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka. Amat besar kemurkaan (bagi mereka) di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman. Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang”. (Qs. Al-Mu’min : 34-35)


Dalam hal ini Pemerintah Aceh ingin memposisikan dirinya seperti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang menerima syari’at Islam secara bertahap. Dan banyak dari umat Islam yang sudah tertipu dengan hal ini. Padahal kita semua telah mengetahui bahwa Islam telah sampai kepada kita secara sempurna dan paripurna, maka tidak boleh menerapkannya secara bertahap atau menerapkan sebagiannya dengan meninggalkan sebagian lainnya atau memilih-milih yang sesuai dengan kondisi dan melalaikan yang tidak sesuai dengan kondisi jika masih mungkin untuk diterapkan. Sesungguhnya Islam yang hari ini ada di hadapan kita berbeda dengan Islam sebelum turunnya firman Allah Ta’ala :


“Pada hari ini telah Aku sempurnakan dien kalian untuk kalian, dan Aku sempurnakan untuk kalian nikmat-Ku dan Aku telah ridha Islam sebagai dien kalian”. (Qs. Al-Maaidah : 3)


Berkata Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu : “Rasulullah  telah pergi meninggalkan kami (wafat), dan tidak seekor burung yang terbang membalik-balikkan kedua sayapnya melainkan beliau telah menerangkan ilmunya kepada kami”.  Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda : “Tidak tinggal sesuatupun yang mendekatkan kamu ke surga dan menjauhkan kamu dari neraka, melainkan sesungguhnya telah dijelaskan kepada kamu”.  

Dan dari Mutthalib bin Hanthab Radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda : “Tidak aku tinggalkan sesuatupun juga apa-apa yang telah Allah perintahkan kepada kamu, melainkan sesungguhnya telah aku perintahkan kepada kamu. Dan tidak aku tinggalkan kepada kamu sesuatupun juga apa-apa yang telah Allah larang kamu (mengerjakannya), melainkan sesungguhnya telah aku larang kamu (mengerjakannya)”. 

Sebenarnya hal ini dilakukan oleh Pemerintah Aceh ---Wallahu A’lam--- adalah karena jika Syari’at Islam diterapkan secara sempurna akan banyak sekali bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945. Oleh karena itu jika Syari’at Islam diterapkan secara bertahap akan mudah bagi Pemerintah Aceh untuk menyeleksi dan tidak menerapkan kandungan Syari’at Islam yang bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945. Sehingga Syari’at Islam akan berjalan tanpa bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945.


Jadi, bagi Pemerintah Aceh bukannya Pancasila dan UUD 1945 yang harus mengikuti Allah dan Rasul-Nya, akan tetapi Allah dan Rasul-Nya (Al-Qur’an dan As-Sunnah) yang harus mengikuti Pancasila dan UUD 1945.


Dahulu, pernah suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam marah besar karena melihat ’Umar masih membawa-bawa dan mempelajari Taurat, kemudian beliau bersabda :


“Seandainya Musa turun dan kalian mengikutinya serta meninggalkanku pastilah kalian tersesat”. (HR. Ahmad) 

Perhatikanlah...!!! Padahal yang dipelajari oleh ’Umar itu adalah kitab Taurat yang merupakan kitab Allah juga, namun Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tetap melarangnya. Bahkan jika Nabi Musa turun pada saat itu, maka tidak ada pilihan lain baginya selain mengikuti ketetapan yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Jika demikian, siapakah sebenarnya Pemerintah ini yang lebih mendahulukan Pancasila dan UUD 1945 daripada Al-Qur’an dan As-Sunnah..??!!


Pada intinya, Pemerintah bersedia menerapkan Syari’at Islam asalkan tidak bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945. Setiap syari’at Islam yang tidak sesuai dengan kandungan Pancasila dan UUD 1945 maka tidak akan diterima dan tidak akan diterapkan.


”Apakah disamping Allah ada Tuhan (yang lain)? Maha Tinggi Allah terhadap apa yang mereka persekutukan (dengan-Nya)”. (Qs. An-Naml : 63)


Jika hal ini telah jelas bagi kita, maka saat ini timbul sebuah pertanyaan. Metode siapakah sebenarnya yang diambil oleh pemerintah dalam menerapkan ”Syari’at Islam”–nya ??? Perhatikanlah firman Allah Ta’ala berikut :


“Hai Rasul, janganlah hendaknya kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera (memperlihatkan) kekafirannya, yaitu diantara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka : "Kami telah beriman", padahal hati mereka belum beriman; dan (juga) di antara orang-orang Yahudi. (Orang-orang Yahudi itu) amat suka mendengar (berita-berita) bohong dan amat suka mendengar perkataan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu; mereka merobah perkataan-perkataan (Taurat) dari tempat-tempatnya. Mereka mengatakan : "Jika diberikan ini (yang sudah di rubah-rubah oleh mereka) kepada kamu, maka terimalah, dan jika kamu diberi yang bukan ini maka hati-hatilah". Barangsiapa yang Allah menghendaki kesesatannya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatupun (yang datang) daripada Allah. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak mensucikan hati mereka. Mereka beroleh kehinaan di dunia dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar”. (Qs. Al-Maaidah : 41)


Ayat ini diturunkan berkenaan dengan dua orang yahudi yang berzina. Mereka mengubah kitab Allah yang ada di tangan mereka yang didalamnya terdapat perintah rajam bagi pezina muhshon. Lalu mereka merubah perintah tersebut dan membuat hukum sendiri di antara mereka, yaitu menjadi cambuk seratus kali, pencorengan muka (dengan arang), dan menaikkan pelaku diatas keledai dengan menghadap kebelakang. Maka ketika peristiwa tersebut terjadi, yaitu setelah hijrah, mereka berkata kepada kalangan mereka sendiri : “Marilah kita berhukum kepadanya (maksudnya Rasulullah). Jika ia memutuskan hukum cambuk dan pencorengan muka, terimalah keputusan itu darinya. Jadikanlah hal itu sebagai alasan antara kalian dan Allah, bahwa ada salah seorang Nabi Allah yang telah menetapkan hal itu diantara kalian. Namun jika ia memutuskan dengan hukuman rajam, janganlah kalian mengikutinya”. 


Didalam Tafsirnya, Al-Imam Ibnu Katsir berkata : “Ayat yang mulia diatas diturunkan berkenaan dengan orang-orang yang segera menuju kepada kekafiran, keluar dari ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Yaitu orang-orang yang mengutamakan pendapat dan hawa nafsu mereka sendiri atas Syari’at Allah Ta’ala. {“Yaitu di antara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka : “kami telah beriman”. Padahal hati mereka belum beriman”}. Maksudnya, mereka menampakkan keimanan melalui lisannya, padahal hati mereka rusak, lagi hampa dari keimanan, mereka itu adalah orang-orang munafik”. 


Didalam ayat ini dan sebab turunnya, terdapat persamaan antara apa yang dilakukan oleh Yahudi dan apa yang dilakukan oleh Pemerintah Aceh :


1.    Orang-orang Yahudi dan Pemerintah sama-sama mengakui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai Nabi Allah.


2.    Orang-orang Yahudi ingin berhukum kepada Rasulullah, namun di sisi lain mereka juga telah membuat hukum sendiri, oleh karena itu mereka hanya mau menerima hukum dari Rasulullah jika tidak bertentangan dengan hukum buatan mereka, dan hal ini sama persis dengan apa yang dilakukan oleh Pemerintah Aceh. Pemerintah Aceh juga ingin berhukum kepada Syari’at Islam yang dibawa oleh Rasulullah, namun mereka juga telah mempunyai hukum sendiri yaitu Pancasila dan UUD 1945, oleh karena itu Pemerintah hanya bersedia menerima Syari’at Islam yang tidak bertentangan dengan kandungan Pancasila dan UUD 1945, sebagaimana telah dijelaskan diatas.


3.    Pemerintah juga mengatakan dengan lisan mereka berkali-kali bahwa mereka adalah orang-orang yang beriman, sama persis dengan apa yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi. Namun sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Imam Ibnu Katsir : “Mereka menampakkan keimanan melalui lisannya, padahal hati mereka rusak, lagi hampa dari keimanan, mereka itu adalah orang-orang munafik”.  Dan mereka juga adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Imam Ibnu Katsir, yaitu : “Orang-orang yang segera menuju kepada kekafiran, keluar dari ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya”.



Dan mari kita lihat kembali lanjutan dari ayat yang mulia diatas :


“Dan bagaimanakah mereka mengangkatmu menjadi hakim mereka, padahal mereka mempunyai Taurat yang didalamnya (ada) hukum Allah, kemudian mereka berpaling sesudah itu (dari putusanmu)? Dan mereka sungguh-sungguh bukan orang yang beriman”. (Qs. Al-Maaidah : 43)

Perhatikanlah, bagaimana Pemerintah dalam hal ini kembali mengikuti jalan orang-orang Yahudi...!! Ya, bagaimana mungkin Pemerintah mengangkat Pancasila dan UUD 1945 menjadi sumber segala sumber hukum, padahal mereka mempunyai Al-Qur’an yang didalamnya ada hukum Allah??


“Dan mereka sungguh-sungguh bukan orang yang beriman”. (Qs. Al-Maaidah : 43)

Allah   juga berfirman mengenai orang-orang Yahudi :


“Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat”. (Qs. Al-Baqarah : 85)

Didalam ayat ini Allah Ta’ala mengabarkan bahwa orang-orang Yahudi beriman kepada sebahagian kitab Taurat dan ingkar terhadap sebahagian yang lain. Hal ini sama dengan  Pemerintah Aceh yang menerima sebahagian Syari’at Allah (yang tidak bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945) dan ingkar terhadap sebahagian Syari’at Allah (yang bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945). Sedangkan ini merupakan perbuatan yang pelakunya dihukumi kafir oleh Allah, sebagaimana didalam firman-Nya :


“Dan mengatakan : “Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami ingkar terhadap sebahagian (yang lain)", serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir), merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya”. (Qs. An-Nisa’ : 150-151)

Ya...!! Sungguh dalam hal ini Pemerintah telah mengikuti jalan orang-orang Yahudi.


Namun seandainya kita menerima bahwa Pemerintah Aceh memang ingin menerapkan Syari’at Islam secara keseluruhan, akan tetapi hal ini tetap tidak bisa diterima. Karena Pemerintah Aceh tidak akan bisa menerapkan Syari’at Islam sebelum hukum tersebut mendapatkan pengesahan dari DPRD. Jadi dalam hal ini, Pemerintah telah menempatkan posisi DPRD diatas posisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala.


Pernah suatu ketika ada seorang kakek dari daerah Sumatera Barat datang ke Aceh karena mendapat kabar bahwa di Aceh telah diterapkan Syari’at Islam. Kakek tersebut terus-menerus teringat akan dosanya dimasa lalu yang telah berzina dan dia meminta agar dirinya dihukum rajam. Akhirnya diapun mendatangi Kantor Dinas Syari’at Islam Prov. NAD dan bertemu dengan Kepala Dinas tersebut ---pada saat itu--- yang bernama Alyasa Abu Bakar. Namun setelah mengetahui maksud tujuan si kakek, Kepala Dinas tersebut ---dengan sangat meyakinkan dan dimuat di salah satu surat kabar di Aceh yaitu Harian Serambi Indonesia--- berkata : ”Hukum rajam tidak bisa dilaksanakan karena belum disahkan oleh DPRD”.


Innalillahi wa inna ilaihi raaji’un.  Perhatikanlah kesombongan yang besar ini.


Mari kita lihat kelanjutan dari kisah sebab turunnya ayat diatas (Qs. Al-Maaidah : 41-44). Malik meriwayatkan dari Naafi’, ia dari Ibnu ‘Umar, ia mengatakan : ”Sesungguhnya orang-orang Yahudi datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu mereka menceritakan kepada beliau bahwa ada seorang laki-laki dan seorang perempuan di antara mereka berzina. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada mereka : “Apa yang kalian dapatkan dalam taurat tentang zina?”. Mereka menjawab : ”Kami pertontonkan mereka dan dicambuk”. ‘Abdullah bin Salam berkata : ”Kalian dusta, sesungguhnya di dalam taurat disebutkan rajam”.


Lalu mereka mendatangkan taurat dan menyebarkannya. Lalu salah seorang di antara mereka meletakkan tangannya di atas ayat rajam, kemudian ia membaca yang sebelum dan yang sesudahnya. Maka ‘Abdullah bin Salam mengatakan kepadanya : ”Angkatlah tanganmu!”. Maka ia mengangkat tangannya dan ternyata itu adalah ayat rajam. Lalu mereka mengatakan : ”Ia benar wahai Muhammad, di dalamnya ada ayat rajam”. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk merajam keduanya, maka keduanyapun dirajam. Lalu saya melihat laki-laki tersebut memiringkan badannya untuk melindungi perempuan tersebut dari batu”. Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dengan menggunakan lafadh Al-Bukhari.  


Sedangkan dalam riwayat Muslim berbunyi : “Bahwasanya didatangkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam seorang laki-laki yahudi dan seorang perempuan yahudi yang berzina, lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pergi sampai datang orang-orang yahudi. Maka beliau bertanya kepada mereka : “Apa hukuman yang kalian dapatkan dalam taurat terhadap orang yang berzina?“. Mereka menjawab : “Kami hitamkan wajah keduanya lalu kami angkat keduanya lalu kami hadapkan kedua wajahnya secara berlawanan dan lalu kami kelilingkan keduanya”. Beliau bersabda : “Datangkanlah taurat lalu bacalah jika kalian memang benar”.


Maka merekapun mendatangkannya lalu membacanya. Hingga ketika sampai ayat rajam, pemuda yang membaca taurat tersebut meletakkan tangannya. Maka ‘Abdullah bin Salam ---sedangkan dia bersama Rasulullah--- mengatakan kepadanya : “Suruh dia agar mengangkat tangannya”. Maka iapun mengangkat tangannya, dan ternyata dibawahnya terdapat ayat rajam maka Rasulullah pun memerintahkan untuk merajam keduanya, sehingga keduanyapun dirajam. ‘Abdullah bin ‘Umar mengatakan : “Aku termasuk orang yang ikut merajam, dan saya melihat dia melindungi perempuan tersebut dari batu dengan dirinya”.


Dan Imam Ahmad meriwayatkan dari Al Barra’ bin ‘Azib, ia mengatakan : “Seorang yahudi yang telah dihitamkan dan dicambuk dilewatkan dihadapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memanggil mereka dan bertanya :  “Apakah seperti ini hukuman bagi orang yang berzina yang kalian dapatkan dalam taurat?”. Mereka menjawab : ”Ya”. Maka beliau memanggil salah seorang ulama mereka, lalu mengatakan kepadanya : “Aku menyumpahmu atas nama Dzat yang menurunkan taurat kepada Musa, apakah begini hukuman bagi orang yang berzina yang kalian dapatkan dalam kitab kalian?”. Maka dia menjawab : ”Demi Allah tidak, dan kalau bukan karena engkau menyumpahku tentu aku tidak akan memberitahukannya kepadamu. Kami mendapatkan hukuman bagi orang yang berzina adalah rajam. Akan tetapi karena hal ini sering terjadi pada pemuka-pemuka kami. Padahal kami apabila yang melakukan pelanggaran seorang pemuka maka kami biarkan dan apabila yang melakukan pelanggaran itu seorang yang lemah, maka kami laksanakan hukuman. Maka kamipun mengatakan : ”Mari kita membuat hukuman yang kita berlakukan untuk orang yang mulia maupun orang yang rendah.” Maka kami bersepakat untuk menghitamkan dan mencambuk”. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Ya Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang pertama kali menghidupkan perintah-Mu ketika mereka mematikannya”. Maka beliau memerintahkan untuk merajamnya. 


Perhatikanlah bagaimana ketundukan dan kepatuhan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada hukum Allah. Ketika beliau mengetahui bahwa hukum Allah untuk kasus tersebut adalah hukum rajam, maka beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam segera memerintahkan orang-orang untuk melaksanakan hukum tersebut. Sungguh tidak ada sedikitpun keberanian dari diri beliau untuk merasa berhak mengesahkan hukum Allah.


Jika demikian, siapakah Pemerintah Aceh yang merasa berhak mengesahkan hukum Allah ini jika dibandingkan dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ??


Siapakah sebenarnya Pemerintah Aceh ini yang merasa berhak untuk mengesahkan hukum Allah??? Apakah mereka tidak mengetahui bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam  saja tidak pernah berani mengesahkan apa yang telah Allah tetapkan/syari’atkan??? Apakah Pemerintah Aceh merasa lebih tinggi kedudukannya dari Allah sehingga mereka merasa berhak mengesahkan Hukum Allah???


Wahai Pemerintah Aceh, siapakah kalian ini sehingga hukum Allah tidak bisa dilaksanakan sebelum mendapatkan pengesahan dari kalian??? Siapa Allah dan siapa kalian??? Apakah kalian merasa lebih tinggi dari Allah??? 


”Apakah disamping Allah ada Tuhan (yang lain)? Maha Tinggi Allah terhadap apa yang mereka persekutukan (dengan-Nya)”. (Qs. An-Naml : 63)

Dan untuk menutup pembahasan ini, mari perhatikan firman Allah Ta’ala berikut :


“Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya ; "Ini dari Allah", (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan”. (Qs. Al-Baqarah : 79)


Az-Zuhri menceritakan, Ubaidillah bin Abdillah memberitahuku, dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata : “Wahai kaum muslimin, bagaimana mungkin kalian menanyakan sesuatu pada ahlul kitab, sedangkan Kitab Allah yang diturunkan kepada Nabi-Nya merupakan berita Allah yang paling aktual yang apabila kalian membacanya tidak membosankan. Dan Allah telah memberitahu kalian bahwa Ahlul Kitab telah mengganti Kitab Allah dan mengubahnya serta menulis Kitab baru dengan tangan mereka sendiri, lalu mereka mengatakan bahwa kitab itu berasal dari Allah dengan maksud agar mereka dapat menjualnya dengan harga yang murah”. 


Maha suci Allah yang telah membongkar hakikat dari Syari’at Islam yang berlaku di Aceh saat ini. Perhatikanlah kembali kesesuaian Pemerintah Aceh dan orang-orang Yahudi. Untuk menjalankan Syari’at Islam palsunya, Pemerintah telah menyusun sebuah kitab yang diberi nama “QANUN”, yang didalamnya berisi hukum-hukum yang sebagiannya berasal dari Islam dan sebagian lagi berasal dari luar Islam. “QANUN” ini tidak akan bisa berlaku sebelum mendapatkan pengesahan. Dan hal ini sangatlah jelas, bahwa “QANUN” ini adalah kitab yang berasal dari Pemerintah, bukan kitab yang berasal dari Allah. Walaupun didalamnya terdapat sebagian hukum Allah, namun “QANUN” tetaplah kitab Pemerintah, karena kitab Allah adalah Al-Qur’anul ‘Adhim yang tidak pernah memerlukan pengesahan dari siapapun.


Lalu apakah itu “QANUN”? Didalam UU No. 18 Th. 2001 disebutkan : “Qanun Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam adalah Peraturan Daerah sebagai pelaksanaan undang-undang di wilayah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dalam penyelenggaraan otonomi khusus”.


Jadi inilah “QANUN”, yaitu Peraturan Daerah.


Dalam UU No. 10 tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, disebutkan bahwa jenis dan susunan hirarkhi peraturan perundang-undangan adalah :

a.     Undang-Undang Dasar RI Tahun 1945

b.    Undang-undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang

c.     Peraturan Pemerintah

d.    Peraturan Presiden

e.     Peraturan Daerah


Dalam Pasal 12 RUU tersebut, ditegaskan bahwa materi muatan Peraturan Daerah adalah seluruh materi muatan dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah dan tugas pembantuan, dan menampung kondisi khusus daerah serta penjabaran lebih lanjut peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi.


Jadi inilah hakikat sebenarnya “QANUN” yang di klaim oleh Pemerintah sebagai Syari’at Islam, yaitu sebuah Peraturan Daerah yang dibentuk untuk melaksanakan Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi. Sedangkan peraturan perundang-undangan tertinggi adalah Pancasila dan UUD 1945, yang mana isinya sangat banyak yang bertentangan dengan hukum Allah  Subhanahu Wa Ta’ala.


Dan untuk lebih memperjelas lagi hal ini bagi kita semua, ada baiknya kita sedikit mengupas “QANUN ACEH NOMOR 3 TAHUN 2007 TENTANG TATA CARA PEMBENTUKAN QANUN”.


Didalam Bab I Pasal 1 ayat (16) disebutkan : “Materi muatan Qanun adalah seluruh materi muatan dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah/otonomi khusus dan tugas pembantuan, serta menampung kondisi khusus daerah serta penjabaran lebih lanjut Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi”.


Perhatikanlah, disini disebutkan bahwa materi muatan Qanun adalah penjabaran lebih lanjut peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi, bukan penjabaran dari Al-Qur’an dan As-Sunnah yang merupakan sumber hukum dalam Syari’at Islam. Jika demikian Syari’at Islam apa yang yang dimaksud oleh Pemerintah Aceh???!!!


Kemudian dalam Bab II pasal 2 ayat (2) disebutkan : “Pembentukan Qanun sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak boleh bertentangan dengan :

a.    Syari’at Islam;

b.    Kepentingan Umum;

c.    Qanun Lainnya; dan

d.    Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi”.


Perhatikanlah penipuan yang terdapat pada point (a). Disini disebutkan bahwa pembentukan “QANUN” tidak boleh bertentangan dengan Syari’at Islam. Padahal tadi telah disebutkan bahwa materi muatan “QANUN” adalah sebagai penjabaran lebih lanjut dari Perundang-undangan yang lebih tinggi yang mana peraturan tertingginya adalah Pancasila dan UUD 1945. Sedangkan telah kita ketahui didalam pembahasan Pancasila dan UUD 1945 dalam Timbangan Hukum Allah bagaimana pertentangan yang sangat banyak antara Pancasila dan UUD 1945 dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Jadi bagaimana mungkin “QANUN” tidak bertentangan dengan Syari’at Islam ???


“Lihatlah bagaimana mereka telah berdusta kepada diri mereka sendiri”. (Qs. Al-An’am : 24)

Yang sebenarnya adalah pada point (d), yaitu “QANUN” tidak boleh bertentangan dengan Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi, karena demikianlah realita yang terjadi.


Kemudian bagaimana “QANUN” yang diklaim sebagai Syari’at Islam ini dapat terlaksana?? Didalam Bab VII bagian ke-2 pasal 36 ayat (1) disebutkan : “Rancangan Qanun yang telah disetujui bersama oleh DPRA/DPRK dan Gubernur/bupati/walikota disampaikan oleh pimpinan DPRA/DPRK kepada Gubernur/bupati/walikota untuk disahkan menjadi Qanun”.


Kemudian pada Bab VII bagian ke-2 pasal 37 ayat (3) disebutkan : “Dalam hal sahnya rancangan Qanun sebagaimana dimaksud pada ayat (2), maka kalimat pengesahannya berbunyi "Qanun ini dinyatakan sah".


Maka inilah “QANUN”, yaitu kitab “ASLI” buatan Pemerintah, yang mana kitab itu mereka susun sendiri, kemudian mereka musyawarahkan, lalu mereka sahkan untuk menjadi sebuah peraturan hidup. 


Setelah kita memahami hal ini, maka mari kita perhatikan kembali perkataan Ibnu ‘Abbas diatas : “Dan Allah telah memberitahu kalian bahwa Ahlul Kitab telah mengganti Kitab Allah dan mengubahnya serta menulis Kitab baru dengan tangan mereka sendiri, lalu mereka mengatakan bahwa kitab itu berasal dari Allah“.

Maha Suci Allah yang telah menerangkan semua ini kepada kita.


Hal ini sama persis dengan apa yang dilakukan oleh Pemerintah Aceh yang telah menulis kitab baru dengan tangan mereka sendiri yang bernama “QANUN”, lalu mereka mengatakan : “Qanun ini adalah Syari’at Islam yang berasal dari  Allah”. 


“Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya ; "Ini dari Allah", (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan”. (Qs. Al-Baqarah : 79)

Kesimpulannya : Sesungguhnya Syari’at Islam yang berlaku di Aceh adalah Syari’at Islam palsu yang pada hakikatnya adalah mempermainkan agama Allah. Maka wajib bagi setiap umat Islam untuk tidak menerima keadaan ini, dan menuntut diberlakukannya Syari’at Islam yang sebenar-benarnya secara kaffah.

Barangsiapa yang ridha dan rela dengan pemberlakuan Syari'at Islam Palsu ini, maka ia akan ikut menanggung dosanya. Karena telah ada sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, dari ’Abdullah bin Mas’ud, bahwasanya Rasulullah  Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :

“Tak seorang nabi pun yang diutus sebelumku kecuali ia mempunyai sahabat–sahabat dan penolong-penolong yang setia. Mereka mengikuti sunnah-sunnahnya dan mengerjakan apa yang diperintahkannya. Kemudian datang setelah mereka kaum yang mengatakan apa yang tidak mereka kerjakan dan mengerjakan apa yang tidak diperintahkan. Maka barang siapa yang berjihad melawan mereka dengan tangannya maka dia adalah mukmin dan barang siapa berjihad dengan lisannya dia adalah mukmin dan siapa yang berjihad dengan hatinya maka dia mukmin. Setelah itu tidak ada lagi iman walaupun sebesar biji sawi”. (HR. Muslim no. 5)


Wallahu a’lam bish shawab...